liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
5 Negara 'Dihantui' Resesi Seks Termasuk di Asia Tenggara

Jakarta

Beberapa negara di dunia saat ini sedang mengalami penurunan populasi akibat resesi gender. Orang-orang menolak untuk melahirkan dan banyak wanita berhenti melahirkan.

Dikutip dari jurnal The Atlantic, istilah ‘resesi seks’ mengacu pada penurunan jumlah rata-rata aktivitas seksual yang dialami suatu negara hingga berdampak pada rendahnya angka kelahiran. Ada beberapa faktor yang menyebabkan fenomena depresi seks, seperti:

Menemukan ‘kesenangan’ dengan cara lain Seks menyakitkan Masalah ekonomi Angka pernikahan rendah Stres kerja dan kelelahan

Lalu, negara mana yang ‘dihantui’ resesi seks? Ini daftarnya.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

1. Thailand

Thailand sedang menghadapi ‘resesi jenis kelamin’ yang melihat tingkat kelahiran terus menurun di tengah populasi yang menua. Tren demografis di negara ini telah menurun selama lima tahun terakhir.

Hingga tahun 2020, yaitu sebesar 1,24, lebih rendah dari angka pergantian penduduk sekitar 1,6. Laporan tersebut seperti pukulan ganda bagi Thailand.

Hal ini menyebabkan pemerintah mendorong banyak pasangan untuk memiliki bayi. Melihat hal tersebut, para pakar KB meminta pemerintah lebih memperhatikan penduduk lanjut usia agar tetap produktif.

“Kita perlu memikirkan kembali persepsi kita tentang demografi lansia. Karena jika kita tidak mengubah tantangan ini menjadi peluang, pasti akan terjadi krisis,” kata Asisten Profesor Piyachart Phiromswad, yang mengkhususkan diri pada ekonomi kependudukan di Thailand, dikutip The Wali.

2. Korea Selatan

Pada 2021, Korea Selatan mencatat tingkat kesuburan hanya 0,81 persen. Padahal, idealnya suatu negara memiliki angka fertilitas hingga 2,1 persen yang bertujuan untuk mempertahankan jumlah penduduk.

Beberapa hal yang menyebabkan keadaan ini seperti anak muda yang tidak mau menikah. Juga, wanita yang sudah menikah memilih untuk tidak hamil. Warga berpikir bahwa anak-anak mereka tidak akan bisa menjalani kehidupan yang lebih baik.

“Singkatnya, orang mengira negara kita bukan tempat yang mudah untuk ditinggali,” kata Lee So-Young, pakar kebijakan kependudukan di Korea Institute of Health and Social Affairs di Korea Selatan.

“Mereka percaya anak-anak mereka tidak dapat memiliki kehidupan yang lebih baik dari mereka, jadi pertanyakan mengapa mereka harus repot memiliki bayi,” lanjutnya.