liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
Arawinda Disebut Mengalaminya, Usia Muda Rentan Jadi Target Love Bombing?

Jakarta

Manajemen pemeran film tersebut, Arawinda memberikan penjelasan terkait kasus perselingkuhan yang menyeret bakatnya. Menyusul ramainya perbincangan netizen yang menyebut Arawinda perselingkuhan pria tersebut, manajemen menyebut Arawinda sebenarnya adalah korban bom cinta dan manipulasi.

Terlepas dari nama yang terseret dalam kasus tersebut, secara umum psikolog klinis dan pendiri pusat konsultasi Anastasia and Associate, Anastasia Sari Dewi, menjelaskan bahwa bom cinta ditandai dengan perhatian yang tiba-tiba dan tergesa-gesa baik dengan kata-kata, hadiah, atau layanan, termasuk memberikan bantuan dan mengantarkan.

Namun tidak seperti hubungan normal, love bombing adalah fase ‘bulan madu’ yang pada akhirnya akan berujung pada pertengkaran, pertengkaran, dan posesif. Akibatnya, orang yang diberi bom cinta akan menyalahkan dirinya sendiri, seolah-olah harus mengalah karena pelaku bom cinta telah melakukan banyak kebaikan dan perjuangan.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

“Seolah-olah dia menunjukkan bahwa dia membutuhkan satu sama lain, terutama dia juga. Jadi manipulasi itu ada. Kalaupun nanti benar-benar berkomitmen atau pasangan lain benar-benar ingin bersamanya atau menyukainya juga, menunjukkan kepeduliannya tetap sama. dengan dia, di situlah manipulasi dimulai. Gaslighting terus, dia akan melihat bagaimana dia memanfaatkan hubungan yang ada,” jelas Sari kepada detikcomRabu (30/11/2022).

“Siklusnya sebenarnya sama dengan siklus pelecehan, di mana ada fase bulan madu mereka yang nanti, mekar, banyak keseruan dan sebagainya. Lovebombing itu ada. Setelah itu akan ada pertengkaran, pertengkaran, dan seterusnya. , terus berargumen mungkin, atau mungkin orang lain, posesif, gaduh, posesif terus-menerus seolah ingin mengontrol,” tambah Sari.

Sejumlah netizen menyoroti bahwa mereka yang mengaku menjadi korban bom cinta dalam kasus perselingkuhan masih berusia 21 tahun. Namun sejumlah netizen lainnya mengkritik usia tersebut sebenarnya sudah cukup umur untuk menanggapi sikap pelaku bom cinta tersebut. Lantas benarkah orang di usia muda lebih rentan menjadi korban bom cinta?

Sari menjelaskan bahwa bom cinta bisa dialami oleh segala usia. Tak hanya anak muda, orang dewasa juga bisa menjadi korban bom cinta dan manipulasi dalam hubungan. Hal ini juga dipengaruhi oleh usia, biasanya hal ini dikarenakan orang pada usia muda umumnya memiliki sedikit pengalaman dalam menjalin hubungan.

“Saya juga menangani klien yang sudah berumur 30 tahun, bahkan 40 tahun, ada yang lebih tua, sering terjebak dengan hal seperti ini,” jelas Sari lagi.

“Tapi di usia muda lebih rentan, karena kurangnya pengalaman dalam hubungan, sangat mungkin hal ini bisa terjadi. Kemungkinan besar, mengingat kurangnya pengalaman dalam hubungan, dan kemampuan berpikir, kognisi, menimbang itu, logikanya tidak sedewasa atau serumit orang dewasa,” lanjut Sari.

KEMUDIAN: Faktor kepribadian di balik korban bom cinta