liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
Dikait-kaitkan dengan Arawinda, Samakah Love Bombing dan Abusive Relationship?

Jakarta

Terkait kasus perselingkuhan yang melibatkan nama aktor Arawinda, pihak manajemen melayangkan penjelasan yang menyatakan bakatnya menjadi korban bom cinta dan manipulasi. Dalam unggahan di Instagramnya juga disebutkan bahwa telah terjadi ‘hubungan terbuka’ dalam kasus ini.

“Pria itu juga mengaku rumah tangganya kacau selama hampir 5 bulan dan berpisah dengan istrinya selama hampir 1 bulan dan mereka berdua sepakat menjalin hubungan terbuka yang membebaskan satu sama lain untuk mencari pasangan lain,” ungkap unggahan KITE Entertainment. . , Selasa (29/11/2022).

Terlepas dari nama kasusnya, psikolog klinis sekaligus pendiri pusat konsultasi Anastasia and Associates, Anastasia Sari Dewi menjelaskan bahwa secara umum konsep hubungan terbuka tidak lazim di bidang psikologi. Pasalnya, hubungan itu harus mengandung tiga komponen yakni keintiman, gairah, dan komitmen.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

“Jika dalam psikologi ditekankan, hubungan yang sehat memiliki tiga komponen (yaitu) kebiasaan, keinginan, dan juga komitmen. Jika seseorang absen atau orang kecil, dapat menyebabkan ketidaknyamanan bagi kedua belah pihak atau salah satunya. Komitmen, semangat, dan juga kebiasaan,” ujar Sari kepada detikcomRabu (30/11/2022).

Selain itu, berada dalam hubungan terbuka alias non-committal relationship dan terbuka di hadapan pasangan lain, bisa memicu sederet risiko. Pertama, adanya ketidakpuasan dan ketidaknyamanan bagi kedua belah pihak dalam hubungan tersebut, atau bagi salah satu pihak yang harus mentolerir keinginan pasangannya untuk menjalin hubungan yang terbuka.

“Demi menjaga stabilitas hubungan, untuk dapat memiliki status tertentu, mereka memilih untuk mentolerir keinginan pasangannya. Hal ini suatu saat dapat menyebabkan penderitaan psikologis bagi pihak yang mentolerir atau yang kedua juga dapat menimbulkan masalah di kemudian hari. Seperti bom waktu yang terus berdetak,” jelas Sari.