liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
Sri Mulyani Ungkap 2 'Hantu' Ekonomi yang Sulit Dibasmi

Jakarta

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengingat tantangan ekonomi global yang harus dihadapi Indonesia di tahun 2023 mendatang. Tantangan ini menghantui pertumbuhan ekonomi banyak negara, termasuk Indonesia.

Guncangan yang ditimbulkan dari kondisi geopolitik tersebut telah mendorong kenaikan harga komoditas dunia, mulai dari pangan hingga energi, yang kemudian dimoderasi oleh inflasi global yang sangat tinggi.

Sri Mulyani juga menyampaikan bahwa pada awal perang antara Rusia dan Ukraina pada Februari 2022, Indonesia mengadakan pertemuan Gubernur Bank Sentral anggota G20. Seketika forum diskusi berubah karena perang.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

“Jadi di sini kita melihat kemungkinan titik kritis juga bisa terjadi di tahun 2023 jika negosiasi kemudian dilakukan dan kemudian perang dihentikan,” katanya dalam acara Forum CEO Kompas100 tahun 2022, dikutip dari kanal YouTube Sekretariat Presiden, Jumat (02/02/2020). 12/2022).

Meski situasi ekonomi bisa membaik pada 2023, menurut dia, situasi tidak bisa berubah secepat itu karena fenomena kenaikan harga pangan dan energi. Hal ini karena inflasi global meningkat sangat tinggi dalam upaya pemulihan ekonomi dunia.

“Namun, yang mungkin belum bisa menciptakan titik kritis adalah fenomena harga pangan dan energi,” kata Sri Mulyani.

“Sekarang kenaikan suku bunga (suku bunga) dan pengetatan kebijakan moneter memang dirancang untuk memoderasi sisi permintaan agar inflasi tidak liar. Ini yang pasti terjadi, setidaknya setengah tahun depan,” ujarnya. lanjut. .

Seiring waktu, suku bunga akan menjadi tinggi, disertai dengan penurunan inflasi secara bertahap. Sri Mulyani mengatakan, bahkan Bank Sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve juga mengatakan suku bunga akan relatif tinggi dalam jangka waktu yang relatif lama.

Artinya, dampak ekonomi di negara maju bisa dirasakan sepanjang tahun 2023, kata Sri Mulyani.

Sri Mulyani mengatakan, jika suku bunga tinggi, dampaknya akan terasa pada surat berharga nasional (SBN) RI, di mana ada kemungkinan keluarnya modal asing (foreign capital outflow) dari investor asing.

Lebih lanjut ia menjelaskan, akibat arus keluar modal asing, Bank Indonesia harus beradaptasi dengan tren pasar global. Perbankan juga perlu mengkaji ulang penyaluran kreditnya, dan perlu dikaji apakah perusahaan yang berniat IPO di Bursa Efek Indonesia (BEI) tetap akan menempuh langkah tersebut.

(da/da)