liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
WHO Telusuri Kasus Gagal Ginjal Akut di RI-Gambia, Ini yang Dikhawatirkan

Jakarta

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sekarang sedang menyelidiki hubungan antara produsen sirup obat batuk tercemar dan kematian lebih dari 300 anak di tiga negara akibat gagal ginjal akut yang misterius. Di Indonesia, kasus gagal ginjal diduga kuat dipicu oleh kontaminasi ethylene glycol (EG) dan diethylene glycol (DEG) dalam kadar yang melebihi batas aman pada beberapa produk sirup obat batuk.

WHO sedang mencari informasi lebih lanjut tentang bahan baku khusus yang digunakan oleh enam produsen di India dan Indonesia untuk memproduksi obat tersebut. WHO juga ingin mengetahui apakah produsen produk obat sirup cair ini mendapatkan pasokan cairan pelarut obat dari pemasok yang sama dari beberapa negara. Hingga saat ini, WHO belum menyebutkan penyedia mana pun.

Kematian anak akibat gagal ginjal akut dimulai pada Juli 2022 di Gambia, diikuti kasus serupa di Indonesia dan Uzbekistan. WHO mengatakan kematian itu terkait dengan sirup obat batuk yang dijual bebas yang diminum oleh anak-anak. Diketahui bahwa obat tersebut mengandung racun EG dan EG yang terkandung dalam produk obat pada kadar yang melebihi batas aman.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Sejauh ini, WHO telah mengidentifikasi enam pembuat obat di India dan Indonesia yang memproduksi sirup tersebut.

“Prioritas tertinggi kami adalah melihat tidak ada lagi kematian anak akibat sesuatu yang sangat bisa dicegah,” kata juru bicara WHO Margaret Harris, dikutip Reuters, Selasa (24/1/2023).

Pada Senin (23/1), WHO juga mengatakan telah memperluas penyelidikannya terhadap potensi kasus serupa di negara lain, yakni Kamboja, Filipina, Timor Leste, dan Senegal. Pasalnya, di empat negara tersebut, produk yang sama yang diduga menyebabkan kasus penyakit ginjal akut misterius juga dijual bebas.

WHO menyerukan kepada pemerintah dan industri farmasi global untuk segera melakukan inspeksi, memberantas obat-obatan di bawah standar, dan memperbaiki regulasi.

WHO telah mengeluarkan peringatan khusus untuk sirup obat batuk yang dibuat oleh dua produsen India, Maiden Pharmaceuticals dan Marion Biotech, pada Oktober 2022 dan awal bulan ini. Produk perusahaan telah dikaitkan dengan kasus misterius gagal ginjal akut di Gambia dan Uzbekistan. Melalui peringatannya, WHO meminta produsen menghentikan penggunaan obat tersebut.

Pabrik pembuatan Maiden dan Marion ditutup. Maiden sekarang bekerja untuk membuka kembali pabriknya setelah pemerintah India mengatakan pada bulan Desember bahwa pengujiannya tidak menemukan masalah dengan produk Maiden.

Selanjutnya: Sorotan WHO untuk Indonesia